Afwan jiddan agak panjang,

Afwan jiddan agak panjang,

Tidak biasanya ana begitu terharu dengan jawaban seorang ustad yang bahkan namanya tidak terkenal sama sekali, ana pun tidak tahu siapa nama ustad tersebut. Ketika ana singgah di salah satu masjid di Jawa Tengah.

“Ustad, saya sedih dan kesal. Kami sudah enam bulan menikah dan belum juga dikaruniani anak. Setiap kali saya berkunjung ke rumah orangtua saya selalu saja ditanya sudah isi belum? Apa lagi tetangga saya yang baru menikah dua bulan lalu, sekarang sudah hamil 4 minggu. Ketika saya berkunjung ke rumah mertua pun sama, Beliau mengatakan kapan punya anak? Kadang ditanya juga, kok belum hamil-hamil sih? Kami sudah memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya baik, tapi kenapa belum juga hamil ustad?” tanya seorang wanita muda.

“Itu semua kehendak Allah, takdir….” jawab ustad.

“Kok jawabannya takdir sih? Serius ustad, saya merasa amat tertekan. Hampir setiap hari ada saja yang menanyakan hal semacam itu…” celetuknya.

“Ustad, kalau saya lain lagi. Kaki suami saya patah 2 bulan lalu karena kecelakaan sehingga Beliau tidak bisa bekerja. Saya terpaksa mencari pekerjaan yang bisa dibawa ke rumah, yaitu jasa cuci dan setrika. Tapi saya merasa sangat lelah ustad karena selain bekerja, saya harus mengurus anak-anak dan mengurus suami saya semantara mertua saya tidak juga membantu, rasanya saya sangat putus asa sekali…” celetuk seorang ibu.

“Bukan hanya ibu-ibu yang punya masalah, saya juga punya keresahan…” ujar seorang laki-laki.

“Saya sudah lima tahun menikah dan sudah berusaha mendidik istri saya untuk menjadi ahli ibadah, tapi ketika saya mengatakan niat saya untuk poligami, ia langsung gusar dan bahkan memasang wajah cemberut lebih dari dua minggu ini. Padahal saya hanya ingin membangun lagi imannya dan mendekatkan dia dengan Tuhan,” lanjut laki-laki tersebut.

“Ustad, saya sedih karena anak saya sangat nakal. Dia sering mabuk-mabukkan dan tidak mau sholat. Terkadang saya menyesal karena telah melahirkannya…” celetuk seorang ibu yang sudah sangat tua.

“Pertanyaannya cukup dulu ya, silahkan ustad untuk dijawab…” ujar seorang pemuda yang mungkin adalah moderator dan notulen dalam majlis tersebut karena nampak sibuk menulis pertanyaan dari para jamaah.

Ana memperhatikan ustad tersebut yang diam beberapa saat sembari menunduk. Nampak seperti sedang berpikir tapi dari rautnya kepiluan pula mulai nampak.

“Sebelum saya menjawab pertanyaan yang sudah ditampung, boleh kah saya sedikit bercerita?” ujar ustad tersebut.

“Boleh ustad…” jawab jamaah serempak termasuk ana meskipun memerhatikan dari kejauhan.

Sebelum berbicara nampak Beliau menghela nafas, “ Saya menikah di tahun 1984 dan di tahun 2013 ini saya belum memiliki momongan. Istri saya pun belum pernah sekali pun merasakan bagaimana rasanya mengandung. Beliau mengalami kecelakan dua minggu setelah kami menikah, saat itu kami mengendarai sepeda motor dan nampak dari kaca spion melaju kencang sebuah bus, saya tidak bisa menghindar karena jarak sudah sangat dekat. Bus tersebut menabrak dan melindas kami, Alhamdulillah saya hanya retak tulang paha yang tidak sampai enam bulan sudah bisa berjalan dengan normal dan sudah bisa beraktivitas seperti sediakala, sedangkan istri saya sampai saat ini tidak bisa berjalan bahkan kami tidak bisa melakukan hubungan suami istri (afwan jiddan) sejak dua minggu pernikahan kami karena apa yang menimpa Beliau, maaf saya tidak bisa menceritakan apa yang Beliau derita. Mertua saya meminta saya untuk mengembalikan anaknya karena waktu itu usia saya masih sangat muda, dengan tujuan agar saya bisa menikah lagi dengan orang lain, tapi saya menolak dan bertekad merawat istri saya hingga saat ini. Satu sampai dua tahun petama, saya mulai goyah dan berniat untuk menuruti permintaaan mertua saya yaitu mengembalikan putri mereka, sungguh… itu penyesalan yang amat dalam bagi saya karena sempat goyah….”

“Saya menginginkan kehidupan rumah tangga yang normal, saya menginginkan seorang istri yang normal sehingga bisa melayani saya dan saya menginginkan anak dari hasil pernikahan kami. Lewat istikharoh lebih dari dua bulan lamanya, alhamdulillah saya tersadar. Pernikahan itu bukan hanya untuk menghasilkan anak dan bersenang-senang dangan wanita. Dalam pernikahan itu ada kesedihan yang bila diikhlaskaan akan menghasilkan senyum, ada kesengsaraan yang apabila kita melapangkan dada justru kita mengucap syukur, dan ada bahagia yang terkadang kita salah menduganya. Istri saya meminta pulang ke orangtuanya karena merasa tidak enak hati, selain saya berkerja, saya pun mengurus seluruh pekerjaan rumah tangga dan mengurus istri saya. Sarapan di meja sebelum berangkat kerja, itu hanya ilusi jika saya tidak mengerjakannya, pakaian bersih dan rapi…tinggal pakai, itu hanya fatamorgana jika sepulang kerja saya tidak mencuci dan menyetrika, rumah bersih dan lantai harum pun hanya angan jika saya tidak bangun pagi-pagi untuk bebenah. Istri saya merasa malu dan sungkan karena merasa meropotkan saya….” ujarnya sembari mengusap matanya yang mulai lembab.

“Semoga Allah meridhoi mereka…” ucap ana dalam hati.

“Banyak yang bertanya kenapa saya tidak menikah lagi? Sulit untuk dijawab dengan kata-kata setiap kali saya mendapai pertanyaan macam ini. Saya menikah bukan karena diawali suka sama suka tapi karena perjodohan orangtua. Jujur saja, saya pun tidak tahu apakah saya benar-benar mencintai istri saya atau tidak, yang saya tahu hanyalah saya harus mengemban amanah Allah. Bahkan yang disebut-sebut menikahi wanita lebih dari dua sebagai sunnah, tidak terfikir oleh saya. Ada banyak cara untuk membeli Jannah bagi istri saya selain jalan tersebut. Saya memiliki cara lain untuk mendekatkan istri saya kepada Allah, tapi bukan jalan yang satu itu. Saya tidak menentang poligami hanya saja, saya menyadari bahwa saya dan istri saya belum cukup ilmu untuk melakukan hal tersbut. Saya takut tidak bisa mempertanggungjawabkannya kelak di akhirat….ilmu saya masih lah sangat minim, bahkan belum mencapai mata kaki,” Beliau kembali mengusap kedua matanya.

“Pernah suatu sore, istri saya meminta maaf karenanya lah rumahtangga kami tidak sempurna sebagaimana rumah tangga orang-orang. Saat itu saya berkata kepadanya bahwa Aisyah pun hingga wafatnya belum menimang buah hati. Sering sekali ia meminta pulang denga alasan ingin berkumpul dengan orangtuanya saja, saya mengatakan padanya bahwa kami hanya tinggal berjarak dua rumah dari rumah orangtuanya dan setiap hari orangtuanya pun menjenguk dan mengajaknya bicara sehingga saya mengatakan kepadanya nanti kalau rindu saya akan antarkan dia berkunjung. Saya mencoba memahami bahwa bukan itu yang ia mau, saya memahami bahwa ia hanya merasa tidak enak hati kepada saya. Butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya ia mengerti bahwa apa yang saya lakukan adalah bentuk dari kewajiban saya kepada Allah, yaitu menjaga amanah. Kadang ada yang berkata bahwa menikah lagi itu diperbolehkan jika istri dalam keadaan sakit semacam itu, saya mengerti betul hal tersebut…tapi saya tidak mampu, saya tidak bisa….saya tidak bisa karena ketakutan saya yang amat besar dengan pertanggungjawaban akhirat…”

“Setiap kali saya rebah, saya selalu berdoa ‘Ya Allah ya Rabb…karuniakanlah rasa takut dalam diri hamba kepada-Mu agar hamba senantiasa taat dan patuh kepada-Mu…agar hamba senantiasa takut dengan azab akhirat….”  Ia kembali mengusap kedua matanya.

“Istri, suami, dan anak itu amanah yang amat besar pak…bu… Surga atau Neraka kalian pun satu rangkaian dengan keduanya. Mereka bisa membawamu ke Surga, bisa juga membawamu ke Jahannam, Na’udzubillah… menikah lagi itu perkara yang mudah, yang sulit itu mengingkari ketakutan kepada Allah yang ada dalam diri saya. Bersabarlah…dunia ini hanya sementara, kita hidup hanya sangat sebentar sekali.  Jangan sampai kita mengorbanakan kehidupan yang kekal hanya demi kebahagiaan di dunia yang singkat ini….bersabarlah…” ujarnya.

“Membaca Al Qur’an jangan hanya dengan pemahaman diri sendiri, ketahuilah bahwa Al Qur’an memiliki tingkat bahasa yang tidak bisa kita pahami tanpa bantuan tafsir. Kita harus mengerti riwayat turunnya, kenapa ayat itu turun, dalam keadaan seperti apa ayat tersebut  turun, untuk siapa ketika itu ayat tersbut diturunkan dan lain sebagiamaa sehingga kita tidak asal menjalankan sesuatu menurut penafsiran kita pribadi. Jangan menuntut kebahagiaan di dunia sebagaimana yang kita angankan, tapi bersyukurlah atas seluruh kejadian setiap detiknya….”

“Masihkah butuh jawaban dari pertanyaan bapak dan ibu yang tadi?” tanya Beliau.

“Tidak ustad…” jawab sebagian jamaah.

Pelayaran dan Bidadari

Semoga Allah menuntun lisan dan jemari saya untuk berada dalam kebenaran. Sebelumnya saya mohon izin untuk meluruskan dulu.

Saya orang awam. Jadi mohon izin sekali, ini saya ada di grup ini sama sekali tak ada maksud untuk menggurui. Hanya sudah tercatat di lauh mahfuzh Nya saat ini, saya di undang ke grup ini.

 

Kita saling share aja ya…

Mulai dari nol ya,,,

 

Level kemampuan kita tak sama.

Mungkin orang lain sudah berjalan lebih dulu

Mari kita coba untuk berlari

Berlari butuh pemanasan

 

Cara paling sederhana untuk memulai pemnasan adalah tilawah

Problemnya tak semua siap tilawah 1 juz

Jadi kalau yang belum siap, pakai sistem 3 menit off

 

Maksudnya:

Tilawah tiga menit atau satu halaman

Setelah itu istirahat. Boleh ganti status, ganti DP dll

 

Kalau saya?

Saya menyeruput kopi.

Nah, setelah itu lanjut lagi.

Minimal sejam sekali, mesti luangkan waktu 3 menit tsb

 

Karena goalnya adalah cinta quran

Hafal, itu adalah karunia dari Allah

Lalu ulang lagi

 

Tahun lalu diadakan perlombaan di sebuah grup WA

Hadiahnya sederhana

Sepaket herbal. Berisi madu di tangan kanan, tapi tidak dengan raun di tangan kiri

Dan serangkaian herbal lainnya yg sebetulnya mereka bisa beli sendiri

 

Yang mengikuti lomba tersebut adalah para member dari berbagai profesi. Ada buruh pabrik, ada  dokter umum, ada ibu rumah tangga, aa penyiar radio, mahasiswa, dll.

 

Lomba tersebut ada tiga.

Tilawah terbanyak

Ziyadah terbanyak

Murajaah terbanyak

 

Setiap peserta hanya boleh satu.

Nah, start up kami itu sama.

 

Dan yang luar biasa, memanas di kategori tilawah.

Sehari adayang setengah juz

 

Wah kuat nih…

Besoknya sehari sejuz

 

Wah, sanggup

Sehariua setengah juz

Akhirnya sehari 5 juz

 

Dan persaingan paling ketat muncul dari dokter umum dan seorang ibu.

Mereka sampai 10 juz sehari

 

Dan finalnya, ibu tersebut bisa 15 juz sehari

 

Dahsyatnya, beliau ketika ramadhan tiba bisa 30 juz sehari

 

 

Tahun ini digelar lagi, dengan orang-orang yang berbeda.

Dan yang menggungguli adalah seorang ibu muda yang sedang memiliki bayi yang sangat aktif.

 

Beliau dikategori murajaah.

Hafalan beliau tak banyak

Juz 1. itu pun hapalannya di talaqqi

Juz 30, menghafal bersama suaminya.

Dan surat-surat pilihan

 

Beliau sampai tembus 19x mengulang juz yang dia miliki dalam sehari

 

Beliau bertanya pada saya.

Kang, mulut aku kok pegel ya?

 

Saya tertawa…

Iya, memang seperti itu.

Sama kan kalau fitness juga, hari pertama pegel.

Lama-lama nggak.

Malah kalau sudah terbiasa olahraga, kalau gak olahraga sehari, badan jadi pegel…

Sama dengan interaksi al-quran

 

 

 

 

 

Pelayan dan Bidadari

Rasi Yugafiati, M.Pd

 

Ujian yang terhantar dalam perjalanan menghatamkan ziyadah 30 juz memang bermacam-macam, begitu berat dan kadang tak logis.

 

Insya Allah,  saya ceritakansatu persatu fenomena yang memang tampak di mata saya, semoga menjadi ibrah. Tak hanya sekedar berkata “ waaah, hebat ya.” tapi mari ambil bagian menjadi ahlullah, ahlul quran. Dengan mempersiapkan mental di atas rata-rata. Karena kekuatan sabar tanpa bats memang berasal dari Allah. Mintalah padaNya.

 

Sebutlah namanya Deni. Seorang lelaki berpostur tegap, piawai memetik di sela-sela waktu, dengan suara khas anak band yang membuat kaum hawa meleleh. Kemampuannya di bidang kuliner, membuatnya memiliki gelar chef yang sangat dibutuhkan di dunia pelayaran.

 

Bekerja di sebuah layar, mengunjungi berbagai negara, menikmati bertemu dengan berbagai ras, memahami berbagai budaya, tentu merupakan impian yang laik untuk diperjuangkan. Pasport dan segalanya telah siap…

 

Namun,,,

Takdir dari Allah begitu menghentak hatinya di pukulan pertama. Deni dinyatakan positif mengalami kerusakan pada paru-paru. Itu menyebabkan Deni harus didiskualifikasi meski kemampuannya di bidang kuliner cukup bisa diperhitungkan.

 

Fakta demikian mencabut semangat hidup Deni hingga ke akar-akarnya. Deni menghilang dari rumah, memperjalankan kakinya tak tentu arah. Orang tuanya yang begitu berkelimpahan harta demikian khawatir, adiknya terus menitikkan air mata. Kakaknya yang piawai memetik gitar, menjadi pemurung dan tak bisa ditemui.

 

Sedangkan sang akhwat sama sekali tak tahu bahwa namanya menjadi bua bibir.

“Mau, ustadz.” mata Deni berkilauan.

 

Ustadz terkekeh-kekeh. “ Khatamkan dulu ziyadah 30 juz, baru boleh meikah”.

Deni pun semakin fokus menghafal quran.

 

Subhanallah, kurang lebih satu setengah tahun Deni sudah khatam 30 juz.

 

Dan tangan-tangan Allah pun bekerja. Segala biaya pernikahan, sudah tersedia. Bahkan pasangan hafiz dan hafizah ini dititipi amanah untuk mengelola sebuah unit usaha, di samping menerima setoran hapalan. Setelah sembilan bulan pernikah, Allah menambah rezeki Deni, berupaya bayi lelaki tampan yang sejak di dalam kandungan terus-menerus dibacakan ayat-ayat quran.

 

Ketika deni mengecek lagi kondisi paru-parunya, ternyata tak ada penyakit apapun!

 

Bersih dan sehat.

 

Subhanallah, ternyata kadang takdir yang pahit sebetulnya merupakan skenario Allah agar hamba tambah dekat dengan Rabb nya.

 

Deni sudah merasakan lezatnya menikmati, malam-malam panjang ditemani lantunan kalamullah dengan suara yang merdu. Dunia pelayaran sudah tak lagi jadi impiannya karena hatinya sudah berlabuh pada akhwat hafizah bernama faridah, dan deni junior.

 

 

Ketika keadilan dipertanyakan

 

Ketika keadilan dipertanyakan
Imam Shamsi Ali

Perkenankan saya minta maaf terlebih dahulu ke teman-teman China karena saya bukan anti China. Toh Islam itu adalah agama semua ras dan etnis. Juga kepada teman-teman Kristiani karena saya bukan anti Kristen. Anda semua adalah saudara saya walau kita beda keyakinan.

Saya juga minta maaf kepada para pemilih Jakarta. Karena saya menghormati pilihan anda. Toh saya juga tidak punya hak pilih di Jakarta. Saya yakin anda memilih seoarang kandidat karena anda menilai dia terbaik untuk Jakarta. Dan karenanya seperti saya, anda ingin yang terbaik bagi Jakarta dan Indonesia.

Justeru yang ingin saya sampaikan adalah kekecewaan saya terhadap perlakuan hukum yang berbeda kepada warga Indonesia. Saya melihat dengan jelas perlakuan yang berbeda-beda (discriminative) dalam penegakan hukum. Ada timbang pilih dalam penegakan hukum.

Saya melihat ketidak adilan itu jelas. Mungkin saya kurang ilmu, atau tidak paham dengan istilah-istilah legal. Karenanya saya minta maaf.

Sesungguhnya dalam tahun-tahun terakhir saya mulai bangga dengan penegakan hukum di negara ini. Dan itu bagi saya adalah kegwmbiraan sekaligus optimisme. Bahwa di tengah berbagai permasalahan bangsa, akan masalah mulai terbenahi.

Betapa tahun-tahun terakhir penegak hukum, KPK khususnya, telah banyak menahan pejabat atau mantan pejabat karena sangkaan penyelewengan alias tersangka. Tentu terlalu banyak jika saya sebutkan satu per satu yang ada di benak saya. Mungkin beberapa saja yang saya anggap paling populer, atau juga karena kedekatan pribadi dengan saya.

Dua mantan menteri agama ditangkap karena statusnya sebagai tersangka menyelewengkan dana haji. Yang pertama adalah Dr. Said Aqil Al-Munawar. Dan yang kedua adalah Surya Darma Ali yang sebagai Ketum PPP ketika itu.

Kasus lainnya adalah seorang perempuan aktifis Muhammadiyah, kebanggan umat, mantan Menteri Kesehatan RI, Siti Fadhilah. Beliau juga ditahan karena statusnya sebagai tersangka. Padahal sejatinya beliau berhasil menentang pemaksaan kehendak orang untuk menerima vaksin produk mereka.

Dua kasus terakhir ini barangkali sepanjang ingatan saya adalah yang paling aneh, bahkan pada level tertentu sangat pahit menerimanya. Tapi anggap itulah benar dalam pertimbangan hukum. Mereka memang harus ditangkap karena status “TERSANGKA” tadi. Ya tidak apa. Mungkin memang begitulah seharusnya.

Kedua kasus itu adalah adalah kasus mantan ketua KPK, Abraham Samad dan mantan Menteri dan pengusaha sukses, Dahlan Iskan. Abraham Samad ditahan alias ditangkap karena sangkaan (tersangka) menyelewengkan wewenang dalam pemalsuan dokumen pengurusan paspor. Sementara Dahlan Iskan ditahan karena sangkaan (tersangka) menjual aset daerah secara salah.

Salah seorang wakil ketua KPk juga ditangkap karena adanya sangkaan kesalahan alias tersangka, Bambang Wijayanto.

Apapun realita yang sesungguhnya dari tuduhan kepada mereka semua, saya menghormati keputusan penangkapan itu karena status mereka sebagai tersangka. Sekali lagi karena status tersangka. Mungkin memang begitulah harusnya hukum dijalankan. Bahwa yang “berstatus tersangka” harus ditahan.

Bahkan jika tidak salah ingat, mantan presiden kedua RI, Soeharto, juga sempat tersangka di tahun 2000. Beliau tidak sempat ditahan hanya karena beliau terjatuh sakit keras sejak penetapan itu. Atas dasar humanitarian beliau tidak mengalami penahanan atau penangkapan itu.

Tersangka tapi bebas?

Yang membingunkan kemudian adalah jika mereka semua itu ditahan karena status TERSANGKA, kenapa ada perlakuan lain kepada tersangka lainnya? Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang saat ini telah ditetapkan sebagak tersangka, tidak saja belum ditahan, tapi justeru masih menjabat sebagai gubernur non aktif DKI. Bahkan masih merasa tidak bersalah dan sangat percaya diri maju sebagai calon pada pemilihan gubernur tahun depan.

Pertanyaan saya adalah apakah memang ada perbedaan “treatment” ketika seseorang tersangka? Artinya ada yang berstatus tersangka yang harus ditahan. Dan ada juga yang berstatus tersangka tapi tetap bebas?

Kalau kata “tersangka” itu memiliki defenisi yang sama dalam hukum, kenapa harus ada perbedaan perlakuan? Ada yang tersangka dan ditahan. Tapi ada juga yang tersangka tapi masih bebas?

Sebagai orang awam saya hanya bisa terheran-heran dan geleng kepala. Kalau saya melihat jasa dari masing-masing tersangka dan ditangkap itu sungguh trenyuh hati ini.

Abraham Samad barangkali adalah seorang sosok penegak hukum yang akan dicatat oleh sejarah negeri ini. Kesederhanaan dan keluguannya sebagai putra Makassar menjadikannya berani menembus kekebalan koruptor. Itu sebabnya pernah disebut-sebut akan menjadi cawapres saat itu.

Dahlan Iskan adalah sosok pebisnis yang sukses. Kesederhanaan hidup menjadikannya tidak pernah terlalu rakus dengan dunia. Bahkan di saat menjadi pejabat tinggi negeri ini beliau tidak mengambil gaji. Semua didedikasikan untuk bangsa dan negara ini.

Lalu di mana keistewaan Ahok itu? Kenapa Ahok di saat telah ditetapkan sebagai tersangka masih tidak disentuh, kecuali pelarangan keluar negeri?

Perlakuan yang berbeda dalam menyikapi kasus hukum, tersangka, dari satu orang ke orang lain, jelas adalah bentuk ketidak adilan. Dan inilah yang menjadikan saya dan jutaan umat yang peduli menjadi resah.

Ini bukan masalah agama. Bukan pula masalah etnis. Ataupun karena dorongan politik. Karena bagi saya Pancasila dan UUD adalah konsensus kebangsaan. Dan konsensus ini menjamin hak semua warga, apapun agama dan etniknya untuk memilih dan dipilih.

Oleh karenanya tuntutan umat untuk dilakukan perlakuan sama kepada semua di hadapan hukum harus didukung. Sebuah negara banyak ditentukan oleh hukum dan penegakan hukumnya. Sehingga tuntutan teman-teman untuk hadirnya “equal treatment” kepada semua warga adalah amanah konsritusi.

Bukan sebaliknya justeru ditakutkan. Apalagi dianggap makar. Sebaliknya tuntutan ini harus dilihat sebagai pengawalan hukum. Dan dengan sendirinya sesungguhnya adalah pengawalan terhadap bangsa dan negara dari pengrusakan yang mungkin tidak disadari. Wallahu a’lam!

New York, 25 Nopember 2016

Presiden Nusantara Foundation & Muslim [truncated by WhatsApp]
.

RIZKI-KU ADA DI LANGIT, BUKAN DI TEMPAT KERJA!

 

 

rezseki

Renungan..!!
RIZKI-KU ADA DI LANGIT, BUKAN DI TEMPAT KERJA!

Belajar Tawakal pada Putri yg berumur 10 Tahun …

Hatim Al Ashom rahimahullah, Ulama besar muslimin, teladan kesederhanaan dan tawakal.

Hatim rahimahullah, suatu hari berkata kepada istri dan 9 putrinya bahwa ia akan pergi untuk menuntut ilmu.

Istri dan putri-putrinya keberatan. Karena siapa yang akan memberi mereka makan.

Salah satu dari putri-putri itu ada yg berusia 10 tahun dan hapal Al Quran.

Dia menenangkan semua: “Biarkan beliau pergi. Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!”

Hatim pun pergi
Hari itu berlalu, malam datang menjelang …

Mereka mulai lapar. Tapi tidak ada makanan. Semua mulai memandang protes kepada putri yg berumur 10 tahun yang telah mendorong kepergian Ayah mereka.

Putri hapal Al Quran itu kembali meyakinkan mereka: “Beliau menyerahkan kita kepada Dzat Yang Maha Hidup, Maha Memberi rizki dan Tidak Pernah mati!”

Dalam suasana seperti itu, pintu rumah mereka diketuk. Pintu dibuka. Terlihat para penunggang kuda.
Mereka bertanya:
“Adakah air di rumah kalian?”

Penghuni rumah menjawab:
“Ya, kami memang tidak punya apa-apa kecuali air”.

Air dihidangkan. Menghilangkan dahaga mereka.

Pemimpin penunggang kuda itu pun bertanya:
“Rumah siapa ini?”

Penghuni rumah menjawab: “Hatim al Ashom”.

Penunggang kuda terkejut: “Hatim, ulama besar muslimin..”

Penunggang kuda itu mengeluarkan sebuah kantong berisi uang dan dilemparkan ke dalam rumah dan berkata kepada para pengikutnya:
“Siapa yang mencintai saya, lakukan seperti yang saya lakukan..”

Para penunggang kuda lainnya pun melemparkan kantong-kantong mereka yang berisi uang. Sampai pintu rumah sulit ditutup, karena banyaknya kantong-kantong uang.
Mereka kemudian pergi.

Tahukah antum, siapa pemimpin penunggang kuda itu…?

Ternyata Abu Ja’far Al Manshur, Amirul Mukminin.

Kini giliran putri 10 tahun yang telah hapal Al Quran itu memandangi ibu dan saudari-saudari nya. Dia memberikan PELAJARAN AQIDAH yang sangat mahal sambil menangis, dia berkata:

” JIKA SATU PANDANGAN MAKHLUK BISA MENCUKUPI KITA, MAKA BAGAIMANA JIKA YANG MEMANDANG KITA ADALAH AL KHOLIQ ..!! ”

*
Terimakasih Nak, kau telah menyengat kami yang dominasi kegelisahannya hanya urusan dunia.

Hingga lupa ada Al Hayyu Ar Rozzaq …

Hingga lupa jaminan- Nya:
“dan di LANGIT lah RIZKI kalian …”

Bukan di tempat pekerjaan …
bukan di kebun …
bukan di toko …
tapi …
DI LANGIT !!

Hingga kami lupa tugas besar akhirat,

اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همنا

“Duhai Allah, jangan Kau jadikan dunia sebagai kegundahan terbesar kami …”

✒ الفَقيْر إلَىٰ عفو رَبِّه

Barakallāhu fiykum

 

TEORI GIGI BUSUK.

TEORI GIGI BUSUK..

Kemarin ada saudara saya yang mengeluh sakit gigi, sudah terasa setahun lalu, namun sudah sebulan lebih rasanya makin senut-senut! Buat kerja gak enak, buat makan gak nikmat, buat tidur gak nyenyak.. pokoknya kalau kumat sangat menyiksa. Masalahnya dia takut dengan dokter, jadi kalo nyeri melanda dia hanya beli obat di apotik, minum sebentar, ilang, besok kumat lagi… aduh iyung.. aduh iyuuung lagi!

Ketika kemarin dia pas ke Jogja, langsung saya paksa ke dokter gigi, tarik, masukkan mobil, kunci pintunya hehe.. sama dokter diminta untuk di rontgen karena bagian gigi paling belakang. Dari hasil fotonya dirujuk ke dokter bedah mulut, ternyata gigi geraham belakangnya posisi miring, menghunjam gigi di depannya sampai keropos, berlubang parah sampai syarafnya kena.. pantess!

Besoknya langsung saya minta diangkat giginya, saya tunggui di ruang eksekusi, setelah proses selama hampir 45 menit yang dramatis, dokternya keringetan karena si pasien teriak haoooo… haoooo!! Brisik! Hehehe..

Melihat dua gigi yang dicabut itu saya bergidik, pantes aja rasanya sakiiit.. jebol begitu!

Hanya 3 hari usai operasi dia sudah bisa ketawa lagi, sakit yang selama setahun lebih menyiksa akhirnya beres juga.. tidak ada lagi keluh kesah seharian yang bikin pening kepala..

Itu baru gigi yang busuk..

Bagaimana dengan harta yang busuk?

Yess! Harta yang busuk nempel di badan kita, baik sengaja atau enggak ternyata bertahun-tahun kita tahan saja.. padahal jangan-jangan ada haramnya disana karena sikap kita yang buruk di masa sebelumnya..

“Orang yang berbuat buruk apapun bentuknya seperti orang yang menebar ranjau di jalan yang dilalui, setiap waktu bisa meledak tiba-tiba, dan melukai dirinya..”

-KH Abdullah Gymnastiar

“Dan barang-siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarah, niscaya ia akan menerima pahala-nya, dan barangsiapa yang melakukan keburukan sebesar biji zarah, niscaya ia akan menerima balasannya,”

(Q.S. Az-Zalzalah ayat 7-8).

Yang punya usaha tapi penuh masalah, rugi terus, sering ditipu, sering bermasalah, rejeki kayaknya gak berkah.. coba ambil kaca!

Yang jadi karyawan, kerja keras siang malam, tapi uang terasa tak pernah cukup, sering banget dapet halangan, hati gak pernah tenang… coba ambil kaca!

Punya rezeki yang banyak, tapi keluarga sering sakit-sakitan, sering kecelakaan, sering ribut siang malam, gak harmonis.. jauh dari ketenangan.. coba ambil kaca!

Jangan-jangan, dulu di masa lalu pernah ada yang kita dzolimi, ada orang yang kita tipu, kita pernah gak jujur, kita pernah ambil hak orang diam-diam, pernah memakan harta haram dan belum sempat dibersihkan, belum sempat untuk taubat!

Jangan sepelekan!

Dulu waktu SMA suka makan gorengan di kantin, makan 10 bayar 5… berkali-kali begitu! Bu Kantin gak tau, tapi Allah Maha Tau.. dan itu tercatat!

Solusinya? Cari ibu kantinnya.. ganti dengan nilai yang berlipat kali, minta maaf, minta didoakan.. kalau dicari-cari gak ketemu, bersedekahlah dan diniatkan untuk membayar dosa masa lalu pada ibu kantin. Pahalanya buat bu kantin.. taubat minta ampun pada ALLAH

Dulu waktu awal-awal bisnis suka nipu pelanggan, barang jelek dibilang bagus. Banyak orang ketipu, terdzalimi, gak bakal beres nih kalau gak taubat pada ALLAH dan menebusnya.. bersedekahlah dari harta yang kita miliki, biar semua yang kotor dimasa lalu semua berubah jadi manfaat buat sesama..

Pernah durhaka sama orang tua? Melawan? Yang membuat mereka terluka dan tidak ridho dengan hidup kita.. satu-satunya cara adalah minta maaf pada mereka, minta di doakan. Kalau ada konflik yang belum selesai minta sama ALLAH agar dilembutkan hatinya..

“Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik” artinya ‘Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu”

Makan harta riba bertahun-tahun, sudah paham ilmunya, tetap jadi ngeyelers, tetap pede walau ditantang perang ALLAH dan Rasulnya.. hati-hati kalau ini gak dicabut, gak diberesin, bakal jadi nyeri yang luarrrr biasa!

Sudah ribuan kisah yang saya share di Facebook dan buku saya.. kisah pilu mereka yang tersiksa hidupnya karena utang dan riba..

Paksa ke dokter gigi.. cabut!

Paksa kembali ke ALLAH.. taubat!

“Sesungguhnya kebaikan itu dapat menghapus keburukan,” (QS.Hud:114)

Agar semua nyeri itu segera berlalu..

Harga Sebuah Mukjizat

Suatu hari, seorang gadis kecil berdiri di depan pintu kamar adiknya yang sedang sakit sambil mendengarkan pembicaraan antara kedua orang tuanya.

Ayahnya berkata dengan mimik wajah sedih dan putus asa: “Apa yang bisa kita lakukan? Dia sudah berada pada pintu kematian. Dia seharusnya mendapatkan operasi otak secepatnya, tapi apa daya kita tidak memiliki apa-apa! Hidupnya sudah berada di ujung tanduk, siapa yang bisa menyelamatkan anak kita?”

Ibunya menjawab, sementara air matanya berkucuran tidak terbendung: “Hanya mu’jizat yang bisa menyembuhkannya”.

Gadis kecil itu tidak tahan melihat pemandangan yang memilukan itu. Dalam sekejap ia melesat menuju kamarnya dan langsung membuka dompet tempat penyimpanan uang sisa jajannya. Dia menemukan uang 1,25 pound. Dia hitung uang itu sampai tiga kali untuk memastikan berapa jumlah uang itu sebenarnya. Ternyata memang hanya 1,25 pound.

Tanpa minta izin orang tuanya terlebih dahulu, bagai kesetanan ia berlari menuju apotik yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Di sana ia melihat seorang apoteker sedang berdialog dengan seorang pelanggan. Mereka bicara cukup panjang dan tidak mempedulikan kedatangan gadis kecil yang masih berumur delapan tahun itu.

Setelah beberapa kali mengetuk lemari kaca tempat obat-obatan, barulah apoteker itu melengoh ke arahnya dengan pandangan meremehkan. “Apa yang kamu inginkan”, katanya.

Gadis kecil itu menjawab dengan singkat: “Mu’jizat”.

Dengan penuh keheranan apoteker itu bertanya kembali, seolah-olah ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar: “Kamu mau apa?”

Dia menjawab lagi: “Aku mau membeli mu’jizat untuk mengobati adikku!”

Dengan nada melecehkan ia berkata: “Kami tidak ada menjual mu’jizat”.

 

Tanpa putus asa gadis kecil itu melanjutkan pertanyaannya: “Kira-kira di mana aku bisa mendapatkan mu’jizat?”

 

Sebelum apoteker itu menjawab, tiba-tiba pelanggan yang bicara dengan apoteker itu menyerobot dengan pertanyaan: “Kamu punya uang berapa untuk membeli mu’jizat?”

 

Gadis kecil itu menjawab: “1.25 pound, dan inilah seluruh kekayaan yang aku miliki”.

 

Pelanggan itu bertanya lagi: “Untuk apa kamu membeli mu’jizat itu?”

 

Gadi kecil: “Untuk adikku yang lagi sakit”.

 

Lalu orang itu bertanya tentang penyakit adiknya. Setelah ia paham bahwa adiknya butuh operasi di otak, orang itu mengulurkan tangannya dan meminta uang yang ada di tangannya. Lantas ia berkata: “Harga mu’jizat memang 1.25 pound.”

 

Orang itu mengajak si gadis kecil pergi. Awalnya ia mengira orang itu akan membawanya ke apotik lain yang menyediakan obat “mu’jizat”. Akan tetapi ia justru menanyakan di mana rumahnya.

 

Sesampai di rumah, orang itu berkenalan dengan ayah-ibu si gadis. Kemudian ia membawa anaknya yang sakit ke rumah sakit tempat orang itu bekerja. Ternyata dia adalah seorang dokter ahli bedah otak.

 

Operasipun berjalan dengan lancar dan selamat. Adik si gadis kembali ke rumah. Seluruh anggota keluarga sangat bersyukur dengan keberhasilan itu.

 

Ibu si anak berkata kepada ayahnya: “Alhamdulillah, kita harus bersyukur kepada Allah yang telah mengutus dokter ini pada waktu yang sangat tepat untuk melakukan operasi gratis bagi anak kita. Ini betul-betul mu’jizat”.

 

Mendengar itu si gadis kecil ikut nimbrung: “Aku sudah membayar harga mu’jizat dengan seluruh uang yang aku miliki. 1.25 pound harganya”.

 

Si ibu langsung memeluk anaknya dan menjelaskan apa yang dimaksud dengan mu’jizat. Allah lah yang mengatur segalanya hingga adiknya sembuh dari penyakitnya. Adapun harga mu’jizat adalah rasa sayangnya kepada adiknya dan menghabiskan segala yang ia miliki demi adiknya.

 

Keduanya sujud syukur atas karunia, nikmat dan mu’jizat Allah yang tiada henti.

 

***

 

Lakukanlah apa yang mesti engkau lakukan sekuat kemampuan dan daya upaya, kemudian biarkan Allah yang mengatur urusanmu….

Disadur dari tulisan : Oleh Zulfi Akmal

JADILAH SEPERTI “KOPI” ‬

unduhan

Seorang pria muda datang pada ibunya dan mengeluh tentang banyak permasalahan dalam kehidupannya. Namun betapa kagetnya, karena ternyata ibunya hanya diam saja, seolah tidak ingin mendengarkan keluh kesahnya. Bahkan sang ibu malah masuk ke dapur dan anaknya terus bercerita sambil mengikutinya. Sang ibu lalu memasak air sampai kemudian airnya mendidih, lalu sang ibu menuangkan ‘Air Panas Mendidih’ itu ke dalam 3 gelas yang telah disiapkan. Di gelas pertama ia masukkan WORTEL, di gelas kedua, ia masukkan TELUR, dan di gelas ketiga, ia masukkan KOPI.

Setelah menunggu beberapa saat, ia lalu mengangkat isi ketiga gelas tadi, dan hasilnya:

  • WORTEL yang KERAS menjadi LUNAK,
  • TELUR yang mudah PECAH menjadi KERAS
  • dan KOPI menghasilkan aroma yang HARUM.

Lalu sang ibu menjelaskan, “Nak….. MASALAH DALAM HIDUP ITU BAGAIKAN AIR MENDIDIH. Namun, sikap kitalah yang akan menentukan dampaknya. Kita bisa menjadi Lembek seperti Wortel, mengeras seperti Telur, atau harum seperti Kopi. Wortel dan telur bukan mempengaruhi air, tetapi malah berubah karena air mendidih itu, sementara KOPI malah mengubah AIR, membuatnya menjadi HARUM.

”Dalam setiap masalah selalu tersimpan Mutiara Iman yang berharga. Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja. Tapi apakah kita dapat tetap percaya saat pertolongan ALLAH SWT seolah tak kunjung datang?

Ada 3 reaksi orang saat masalah datang :

  • Ada yang menjadi lembek, suka mengeluh (seperti wortel tadi) dan mengasihani diri sendiri.
  • Ada yang mengeras (seperti telur), marah dan berontak kepada Tuhannya.
  • Ada juga yang justru semakin harum (seperti kopi), menjadi semakin kuat dan percaya padaNYA.

Ada sebabnya mengapa ALLAH SWT menunda pertolonganNYA, Apa tujuannya?

Agar kita belajar untuk percaya dan sabar!

Karena tidak pernah ada masalah yang tidak bisa ALLAH SWT selesaikan.

Menganal Allah Sebagai Pencipta

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

 

Allāh ‘Azza wa Jalla adalah Dzat Yang Maha Pencipta, menciptakan dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada.

Dialah Allāh yang telah menciptakan langit, bumi, manusia & seluruh alam semesta.

Allâh Subhānahu wa Ta’āla berfirman :

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

“Itu adalah Allāh Rabb kalian yang telah menciptakan segala sesuatu.” (QS. Ghāfir : 62)

Dialah Allāh Al-Khāliq Yang Maha Pencipta, sedangkan selain Allah adalah makhluq yang diciptakan. Mereka tidak bisa mencipta meskipun diagung-agungkan dan disembah oleh manusia.

Allâh Subhānahu wa Ta’āla berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ الله لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ.

“Wahai manusia, telah dibuat perumpamaan bagi kalian maka hendaklah kalian mendengarnya, sesungguhnya segala sesembahan yang kalian sembah selain Allāh, tidak akan bisa menciptakan seekor lalat, meskipun mereka bersatu padu untuk membuat seekor lalat tersebut.” (QS. Al-Hajj : 73)

Berkumpul saja mereka tidak mampu untuk mencipta, bagaimana dengan sendirian?

Menciptakan seekor lalat yang sedemikian sederhananya susunan tubuhnya, mereka tidak mampu maka bagaimana mereka bisa menciptakan makhluq yang lebih rumit.

Seorang muslim wajib hanya meyakini bahwasanya Allāh adalah satu-satunya Pencipta & tidak ada yang mencipta selain Allāh .

 

وصلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه أجمعين

Sumber:

Saudaramu,

Ust. ‘Abdullāh Roy

Di kota Al-Madīnah

 

Anjuran Agar Menghormati Tetangga

 

Jum’at, 20 Rabi’ul awal 1437 H / 1 Januari 2016 M

بسم الله الرحمن الرحيم

وَعَنْ أَنَس رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم قَالَ: “وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.” مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

 

Dari Anas Radiyallāhu anhu dari Nabi Shallallāhu Alayhi Wasallam, beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, tidaklah (sempurna) beriman seorang hamba sampai dia menyukai bagi tetangganya kebaikan yang dia suka untuk dirinya.”

(Muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh Imām Bukhāri dan Imām Muslim).

Hadits ini adalah hadits yang agung, yang Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam buka dengan sumpah, kata Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ

“Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya”

Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam bersumpah untuk apa ? Untuk menekankan akan agungnya hak tetangga.

Dan Allāh Subhānahu Wa Ta’āla dalam Al-Qurān telah berfirman:

و الجار الجنب

“Dan berbuat baiklah kepada tetangga dekat”. (QS An-Nisā 36)

Sampai-sampai Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam mengatakan: “Tidaklah beriman seorang hamba sampai dia menghendaki kebaikan bagi tetangganya, apa-apa kebaikan yang disuka untuk dirinya.”

Dan model seperti ini (menyukai kebaikan bagi tetangga, kebaikan yang kita suka untuk diri kita juga kita ingin bagi tetangga), ini menunjukkan hukumnya wajib, karena sebagaimana dijelaskan oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyyah dalam Kitābul Īmān, beliau menjelaskan bahwasanya:

“Tidaklah sesuatu dinafikan dalam syari’at kecuali karena ada suatu kewajiban yang ditinggalkan”

Contohnya:

-PERTAMA-

Sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ/ أحمد

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji.”

(HR. Ahmad)

Ini menunjukkan bahwasanya amanah hukumnya wajib. Tatkala amanah ditinggalkan, maka divonis tidak ada iman. Berarti amanah hukumnya wajib.

-KEDUA-

Dalam masalah shalat, Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam tatkala melihat ada seorang yang shalat kemudian menemui Nabi, kata Nabi Shallallāhu Alayhi Wasallam,

اِرْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِ

“Kembalilah shalat lagi, sesungguhnya kau belum shalat”.

(HR. Bukhari 757, Muslim 397)

Kata para ulama, kenapa Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam menegur orang ini dan mengatakan kau belum shalat ?

Berarti ada perkara-perkara wajib yang ditinggalkan oleh orang ini, sehingga Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam mengatakan, “Kau belum shalat”.

 

Adapun kalau hanya perkara sunnah yang ditinggalkan, maka tidak dinafikan.

 

Di dalam hadits ini Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam mengatakan: “Tidaklah beriman seorang hamba sampai dia menghendaki kebaikan bagi tetangganya, apa yang dia sukai untuk dirinya.”

 

Ini menunjukkan rasa cinta, kehendak, menghendaki kebaikan bagi tetangga sebagaimana kebaikan untuk diri kita, hukumnya adalah wajib, bukan sekedar sunnah.

 

Namun ini bukan berarti apa yang kita miliki harus kita berikan kepada tetangga sebagaimana kalau kita punya mobil dua, berarti mobil yang satu buat tetangga. Tidak begitu maksudnya.

 

Namun hanya sekedar rasa ingin, sebagaimana kita punya mobil, kita ingin tetangga kita juga punya mobil. Sebagaimana kita bahagia, kita ingin tetangga kita juga bahagia.

 

Perhatikan !!!

 

Ada hadits yang umum, berkaitan hubungan antara sesama muslim:

 

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ.

 

Nabi Shallallāhu Alayhi Wasallam, bersabda: “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian, sampai dia menghendaki kebaikan bagi saudaranya, apa kebaikan yang dia kehendaki untuk dirinya.”

(HR. Bukhari no.13, Muslim no.45)

 

Kalau kepada saudara secara umum, meskipun tetangga jauh kita wajib untuk menghendaki kebaikan bagi dia selama dia sebagai seorang muslim, bagaimana lagi dengan tetangga yang dekat ?

 

Oleh karenanya di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Āisyah radhiyallāhu ta’āla ‘anhā, Nabi Shallallāhu Alayhi Wasallam pernah bersabda:

 

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Senantiasa malaikat Jibrīl ‘alayihissalām berwasiat kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai aku menyangka malaikat Jibrīl akan menuliskan atau menetapkan warisan bagi tetangga”.

(HR. Bukhari 6014 dan Muslim 2624).

 

Kita tahu bahwasanya tetangga bukan ahli waris kita. Kalau kita meninggal tetangga tidak dapat warisan, yang dapat warisan dari kita adalah kerabat kita, anak kita, ibu kita, orang tua kita.

 

Akan tetapi karena saking seringnya malaikat Jibrīl mewasiatkan kepada Nabi Shallallāhu Alayhi Wasallam untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai Nabi menyangka, malaikat Jibrīl akan menulis bahwa tetangga akan memiliki jatah warisan, namun ternyata tidak.

 

Ini hanya sekedar penekanan dari Nabi Shallallāhu Alayhi Wasallam akan perhatian malaikat Jibril terhadap tetangga.

 

Dalam hadits yang lain Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam bersabda:

 

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَل يُحْسِنْ ألى جَارِهِ

 

“Barang siapa beriman kepada Allāh dan hari Akhirat, maka hendaknya dia berbuat baik kepada tetangganya”.

(HR Bukhari no: 4787 dan Muslim no: 69. lafazh hadits milik Muslim)

Ini juga perintah yang sangat tegas, Nabi mengatakan: “Barang siapa yang beriman kepada Allāh dan hari Akhirat”.

 

Kalau dia beriman kepada Allāh Subhānahu Wa Ta’āla dan beriman kepada hari Akhirat (yaitu hari pembalasan), bahwasanya kebaikan dia akan diberi balasan oleh Allāh Subhānahu Wa Ta’āla, bahwasanya dia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allāh Subhānahu Wa Ta’āla, dia beriman dengan hari akhirat, maka konsekuensinya kata Nabi Shallallāhu Alayhi Wasallam “falyuhsin ilā jārihi” (maka hendaknya dia berbuat baik kepada tetangganya).

 

Ikhwan dan akhawat yang dirahmati oleh Allāh Subhānahu Wa Ta’āla,

 

Berbuat baik kepada tetangga ini perkara yang mulai hilang di kalangan kaum muslimin. Bahkan kita lihat di sebagian kota, seseorang tidak mengenal tetangganya sama sekali. Masing-masing sibuk dengan urusannya masing-masing.

 

Padahal tidak demikian, Rasūlullāh Shallallāhu Alayhi Wasallam menganjurkan bahwasanya sesama tetangga harus saling mengenal, karena tetangga punya hak yang harus kita tunaikan.

 

Kata para ulama, “Siapa tetangga kita ?”

 

Sebagian ulama mengatakan: “Tetangga kita yaitu orang-orang yang kita bertemu dengan merka di masjid (satu masjid).”

 

Itulah tetangga kita, artinya: semakin dekat semakin punya hak semakin tinggi.

 

Apalagi tetangga yang pintunya berdekatan dengan pintu rumah kita. Maka dia punya hak yang lebih tinggi, maka :

 

  • kita ziarahi,
  • kita kunjungi,
  • kalau ada yang sakit kita datangi,
  • kita bertanya tentang kabar-kabarnya,

 

Karena dia punya hak untuk kita tunaikan.

 

Jadi, berbuat baik kepada tetangga bukan hanya berarti tidak mengganggu mereka, tetapi berusaha berbuat baik kepada mereka.

  • Kalau ada makanan yang kita masak, maka kita berikan kepada tetangga kita.
  • Kalau ada sesuatu yang mungkin bisa membahagiakan tetangga kita, kita berikan.

Itu namanya hak tetangga.

Yang jadi masalah kalau sebaliknya, berbuat buruk kepada tetangga:

Di rumah kita ada suara-suara yang mengganggu tetangga yang membuat mereka susah untuk tidur.  Atau,

  • Kita punya pengairan air yang akhirnya masuk ke tempat tetangga, menggangu mereka, menjadikan becek pekarangan mereka.
  • Atau hal-hal lain yang mengganggu tetangga semuanya dilarang dan bertentangan dengan hadits yang mulia ini.

Semoga Allāh Subhānahu Wa Ta’āla menjadikan kita semua bisa berbuat baik kepada tetangga.

وبالله التوفيق

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Continue reading

Membuat Grafik dengan Dua Sumbu (Axis) Vertikal Berbeda

pelajran untuk membuat grafik pada excel ttg pada pembuatan biodiesel

Junaidi

Adakalanya kita ingin membuat grafik dengan dua jenis data yang memiliki besaran yang berbeda. Misalnya kita ingin membuat grafik perkembangan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA).  Realisasi PMDN dalam nilai Rp Miliar sedangkan realisasi PMA dalam nili US$ Juta. Tentunya kita tidak dapat membuat kedua besaran nilai tersebut dalam satu sumbu vertikal (axis vertikal) yang sama. Oleh karenanya, berikut ini diberikan cara membuat grafik dengan dua sumbu vertikal. Pembahasan pada tulisan ini menggunakan Microsoft Excel 2007. Untuk Excel 2003 , lihat pada tulisan ini.

Misalnya kita punya data berikut yang menggambarkan perkembangan realisasi PMDN dan PMA di Indonesia tahun 1990 – 2009 (sumber data BKPM RI). Nilai PMDN dalam Rp Miliar sedangkan nilai PMA dalam US$ Juta. Sebagai latihan, mari kita ketikkan data tersebut pada worksheet seperti tampilan di bawah ini. (Perhatikan: Kolom E adalah tahun, tetapi judul tahunnya tidak usah diketik. Tujuannya hanya…

View original post 234 more words

Manfaat Tidur siang sejenak (Qailulah)

tidr siangtisur siang

Salah satu sunnah Rasulullah yang menjadi kebiasaan para sahabat adalah qailulah. Yakni tidur sebentar di siang hari. Mengapa tidur di siang hari dan mengapa hanya sebentar? Ternyata penelitian pada tahun 2010 ini menunjukkan hikmahnya.

Sebuah penelitian di City University of New York, pada tahun 2010, menemukan bahwa orang yang biasa tidur siang dengan waktu 10 – 20 menit, memiliki daya ingat yang lebih tajam dibandingkan orang-orang yang tidak melakukannya. Namun jika tidurnya terlalu lama, justru bisa menimbulkan masalah.

Secara rinci, Indonesia Men’s Health merilis hasil penelitian tersebut.

Tidur siang 10 menit dapat mengurangi kelelahan dan meningkatkan ketajaman otak untuk setidaknya 2,5 jam. Namun manfaat ini tidak ditemukan jika tidurnya hanya 5 menit. Tidur siang 20 menit dapat meningkatkan reaksi dan performa terhadap tugas yang berhubungan dengan angka. Tidur siang 30 menit dapat membuat seseorang mengantuk selama 5 menit pertama setelah bangun kemudian segar selama 90 menit berikutnya. Tidur siang 45-90 menit tidak memberikan manfaat, justru membuat tubuh lebih lelah dari sebelumnya. Sedangkan tidur siang lebih dari 90 menit, justru mendatangkan masalah. Studi banyak ahli lainnya juga menunjukkan hal senada. Bahwa tidur sebentar di siang hari (qailulah) bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan otak.

Dr. James Maas, seorang pakar tidur dari Cornell University merumuskan, tidur sebentar di siang hari dapat mengembalikan tenaga dan menjaga kesehatan.

David Dinges, dari University of Pennsylvania School of Medicine mengemukakan, tidur sebentar di siang hari dapat meningkatkan kewaspadaan, kemampuan memori, kemampuan motorik, pengambilan keputusan dan semangat, serta dapat menurunkan kemungkinan sakit jantung dan stress sebesar 30%.

Beberapa abad sebelum penelitian-penelitian ini, umat Islam mengenal manfaat qailulah dari penjelasan Imam Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, “Hendaklah seseorang tidak meninggalkan tidur yang sekejap pada siang hari karena ia membantu ibadah pada malam hari.”

Menurutnya, qailulah yang paling baik adalah sebelum zhuhur. Sedangkan sebagian sahabat Nabi, ada juga yang melaksanakan qailulah setelah Zhuhur.

Dalam riwayat Imam Bukhari, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Kami bersegera datang ke masjid untuk menanti pelaksanaan shalat Jum’at dan kami qailulah setelah shalat Jum’at.”

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah mendokumentasikan kebiasaan qailulah para sahabat. Terdapat sebuah hadits dari Ibnu Umar, bahwa beliau berkata, “Kami (para sahabat) pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suka tidur di masjid, kami tidur qailulah di dalamnya, dan kami pada waktu itu masih muda-muda.”

Masya Allah… telah berabad-abad lamanya kebiasaan itu berlalu sejak pertama kali diamalkan oleh para sahabat Nabi. Dan kini, penelitian ilmiah membuktikan manfaat kebiasaan itu. [Ibnu K/bersamadakwah]

Demikian, mari kita praktek dulu

Tahajjud terasa berat??

tahajjud

Kenapa tahajjud begitu berat untukku?

Ya Allah begitu seringnya hamba terlelap melewati malam dengan terkubur didalam mimpi-mimpiku.
Begitu seringnya hamba tak melaksanakan seruanaMu untuk memuliakan sepertiga malam terakhirMu.
Begitu seringnya hamba tak menemuiMu di sepertiga malam terakhir.
Begitu jauh rahmatMu pada hamba, hingga hamba berat untuk bersujud bersimpuh dihadapanMu di sepertiga malam terakhirMu.

Ya Allah apakah karena dosa-dosaku ini telah menghalangi hamba untuk memuliakan malamMu?
Apakah mata yang selalu melakukan zina dan maksiat hingga sulit bagi hamba untuk membukakan mata di sepertiga malam terakhirMu?
Apakah karena lisan ini sering menyakiti sesama saudara muslim hingga mulut ini tak mampu untuk berdoa di sepertiga malam terakhirMu?
Apakah karena kaki ini yang selalu melangkah kepada kemaksiatan hingga menyulitkan hamba untuk melangkahkan kaki untuk berwudhu dan bersujud di hadapanMu?
Apakah karena tangan ini yang sering bertindak dzalim kepada saudara hamba hingga menyukitkan hamba untuk bertakbir mengagungkanMu disepertiga malam terakhirMu?
Apakah karena telinga ini yang begitu sering mendengarkan perkataan ghibah dan yang tak seharusnya hamba perdengarkan hingga seakan telinga ini tuli akan perintahMu untuk memuliakan sepertiga malam terakhirMu?

Ya Allah engkaulah yang membolak-balikkan hati kami, tetapkanlah hati ini di atas nikmatnya iman kepadaMu dan agama islam ini. Maafkanlah segala kekhilafan yang menghalangi rahmatMu kepada hamba. Hanya padaMu lah kami bersandar dan hanya padaMulah kami memohon pertolongan.
Berikanlah kami kekuatan untuk melawan rasa kantuk yang menghalangi kami memuliakan malam-malamMu.
Bantulah kami Ya Allah agar kami selalu bisa memuliakan malam-malamMu dengan tahajjudku dan jadikanlah kami menjadi seorang Ahli Tahajjud.
Ya Allah dan kumpulkanlah kami di surgaMu bersama para orang-orang sholeh yang Ahli Tahajjud

Beberapa Lokasi Kajian Sunnah

rodja

 

Read more: Masjid Al Fauzien, Gema Pesona Estate, Depok | Informasi Radio Rodja 756 AM http://info.radiorodja.com/event-type/alfauzien-depok/#ixzz3u1TdzlZo
Follow us: @radiorodja on Twitter | radiorodja.rodjatv on Facebookrodja

 

Cara Download Album Foto Di Facebook 2015

Sekarang anda tidak perlu repot repot menyimpan album foto yang ada di facebook secara satu per satu, dengan menggunakan Extension Google Chrome ini, anda bisa mendownload album foto yang ada difacebook anda dengan cara instant,cepat dan mudah…Tapi ingat, ini khusus pengguna Browser Google Chrome hehehe.Extension Tersebut Bernama “FB Album mod”

• Langkah Awal,tentukan target anda Album foto yang akan didownload, bisa Fot album sendiri, ataupun bisa juga foto orang lain, atau bisa juga Halaman halaman facebook yang share foto foto indah, dan langsung masuk ke Album Foto tersebut.

• Selanjutnya, kita load semua gambarnya hingga selesai agar foto dalam album tersebut bisa didownload semuanya, jika tidak ke load semua, maka yang kedownload hanya sebagian foto yang selesai di load saja.

• Selanjutnya, klik Extension “FB Album Mod” dan pilih “Whitout Auto Load”

• Setelah beberapa detik menunggu, akan muncul sebuah Tab baru, lalu Klik “Change Name” dan Pilih “Ok”

• Selanjutnya Pilih “Auto Zip All” dan Tunggu Hingga Loading selesai, semakin banyak foto yang akan didownload, maka semakin lama juga prosesnya…

• Kalau udah selesai, Foto akan terdownload otomatis,tinggal di open foldernya, di Ekstrak dan selamat menikmati hidangan dari Extension “FB Album Mod”

Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

yuk

Tarawih merupakan bentuk jamak dari kata tarwihah. Secara bahasa berarti jalsah (duduk). Kemudian perbuatan duduk pada bulan Ramadhan setelah selesai shalat malam 4 rakaat disebut tarwihah; karena dengan duduk itu orang-orang bisa beristirahat setelah lama melaksanakan qiyam Ramadhan.

Menegakkan Shalat malam atau tahajud atau tarawih dan shalat witir di bulan Ramadhan merupakan amalan yang sunnah. Bahkan orang yang menegakkan malam Ramadhan dilandasi dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.

Sebagaimana dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhubahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ قاَمَ رَمَضَانَ إِيـْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »

“Siapapun yang menegakkan bulan Ramadhan dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muslim 1266)

Pada asalnya shalat sunnah malam hari dan siang hari adalah satu kali salam setiap dua rakaat. Berdasarkan keterangan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu bahwa seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah shalat malam itu?” Beliau menjawab:

« مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ »

“Dua rakaat – dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu yang lain dikatakan:

« صَلاَةُ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ رَكْعَتَانِ رَكْعَتَانِ »

“Shalat malam hari dan siang hari itu dua rakaat – dua rakaat.” (HR Ibn Abi Syaibah) (At-Tamhiid, 5/251; Al-Hawadits, 140-143; Fathul Bari’ 4/250; Al-Muntaqo 4/49-51)

Maka jika ada dalil lain yang shahih yang menerangkan berbeda dengan tata cara yang asal (dasar) tersebut, maka kita mengikuti dalil yang shahih tersebut. Adapun jumlah rakaat shalat malam atau shalat tahajud atau shalat tarawih dan witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah lebih dari 11 atau 13 rakaat.

Shalat tarawih dianjurkan untuk dilakukan berjamaah di masjid karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukan hal yang sama walaupun hanya beberapa hari saja. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Nu’man bin Basyir rahimahullah, ia berkata:

“Kami melaksanakan qiyamul lail bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam 23 Ramadhan sampai sepertiga malam. Kemudian kami shalat lagi bersama beliau pada malam 25 Ramadhan sampai separuh malam. Kemudian beliau memimpin lagi pada malam 27 Ramadhan sampai kami menyangka tidak akan sempat mendapati sahur.” (HR. Nasa’i, Ahmad, Al-Hakim, Shahih)

Beserta sebuah Hadits dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

Kami puasa tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memimpin kami untuk melakukan shalat (tarawih) hingga Ramadhan tinggal tujuh hari lagi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami kami shalat sampai lewat sepertiga malam. Kemudian beliau tidak keluar lagi pada malam ke enam (tinggal 6 hari lagi – pent). Dan pada malam ke lima (tinggal 5 hari – pent) beliau memimpin shalat lagi sampai lewat separuh malam. Lalu kami berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya engkau menambah lagi untuk kami sisa malam kita ini?’, maka beliau bersabda:

« مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتىَّ يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ »

“Barang siapa shalat tarawih bersama imam sampai selesai maka ditulis baginya shalat malam semalam suntuk.”

Kemudian beliau tidak memimpin shalat lagi hingga Ramadhan tinggal tiga hari. Maka beliau memimpin kami shalat pada malam ketiga. Beliau mengajak keluarga dan istrinya. Beliau mengimami sampai kami khawatir tidak mendapatkan falah. Saya (perowi) bertanya ‘apa itu falah?’ Dia (Abu Dzar) berkata ‘sahur’. (HR. Nasa’i, Tirmidzi, Ibn Majah, Abu Daud, Ahmad, Shahih)

Hadits itu secara gamblang dan tegas menjelaskan bahwa shalat berjamaah bersama imam dari awal sampai selesai itu sama dengan shalat sendirian semalam suntuk. Hadits tersebut juga sebagai dalil dianjurkannya shalat malam dengan berjamaah.

Bahkan diajurkan pula terhadap kaum perempuan untuk shalat tarawih secara berjamaah, hal ini sebagaimana yang diperintahkan oleh khalifah Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu yaitu beliau memilih Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi imam untuk kaum lelaki dan memilih Sulaiman bin Abu Hatsmah radhiyallahu ‘anhu untuk menjadi imam bagi kaum wanita.

Tata Cara Shalat Malam

Perlu kita ketahui bahwa tata cara shalat malam atau tarawih dan shalat witir yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ada beberapa macam. Dan tata cara tersebut sudah tercatat dalam buku-buku fikih dan hadits. Tata cara yang beragam tersebut semuanya pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnyaradhiyallahu ‘anhum. Semua tata cara tersebut adalah hukumnya sunnah.

Maka sebagai perwujudan mencontoh dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka hendaklah kita terkadang melakukan cara ini dan terkadang melakukan cara itu, sehingga semua sunnah akan dihidupkan. Kalau kita hanya memilih salah satu saja berarti kita mengamalkan satu sunnah dan mematikan sunnah yang lainnya. Kita juga tidak perlu membuat-buat tata cara baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mengikuti tata cara yang tidak ada dalilnya.

Shalat tarawih sebanyak 13 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Beliau membuka shalatnya dengan shalat 2 rakaat yang ringan.
  2. Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang.
  3. Kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan tiap rakaat yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya hingga rakaat ke-12.
  4. Kemudian shalat witir 1 rakaat.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Kholid al-Juhani, beliau berkata:“Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam, maka beliau memulai dengan shalat 2 rakaat yang ringan, Kemudian beliau shalat 2 rakaat dengan bacaan yang panjang sekali, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat 2 rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat witir 1 rakaat.” (HR. Muslim)

Faedah, Hadits ini menjadi dalil bolehnya shalat iftitah 2 rakaat sebelum shalat tarawih.

Shalat tarawih sebanyak 13 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Melakukan shalat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.
  2. Kemudian melakukan shalat witir langsung 5 rakaat sekali salam.

Hal ini berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata: “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melakukan tidur malam, maka apabila beliau bangun dari tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Setelah itu beliau shalat delapan rakaat dengan bersalam setiap 2 rakaat kemudian beliau melakukan shalat witir lima rakaat yang tidak melakukan salam kecuali pada rakaat yang kelima.”

Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Melakukan shalat 10 rakaat dengan sekali salam setiap 2 rakaat.
  2. Kemudian melakukan shalat witir 1 rakaat.

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يُصَلىِّ فِيْمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ – وَ هِيَ الَّتِي يَدْعُوْ النَّاسُ الْعَتَمَةَ – إِلىَ الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُسَلَّمُ بَيْنَ كُلّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوْتِرُ بِوَاحِدَةٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam atau tarawih setelah shalat Isya’ – Manusia menyebutnya shalat Atamah – hingga fajar sebanyak 11 rakaat. Beliau melakukan salam setiap dua rakaat dan beliau berwitir satu rakaat.” (HR. Muslim)

Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Melakukan shalat 8 rakaat dengan sekali salam setiap 4 rakaat.
  2. Kemudian shalat witir langsung 3 rakaat dengan sekali salam.

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata:

مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلّ الله عليه و سلّم يَزِيْدُ فِي رَمَضَانَ وَ لاَ فِي غَيْرِهِ إِحْدَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى أَرْبَعًا، فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلَـهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثاً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah bilangan pada bulan Ramadhan dan tidak pula pada bulan selain Ramadhan dari 11 Rakaat. Beliau shalat 4 rakaat sekali salam maka jangan ditanya tentang kebagusan dan panjangnya, kemudian shalat 4 rakaat lagi sekali salam maka jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian shalat witir 3 rakaat.” (HR Muslim)

Tambahan: Tidak ada duduk tahiyat awal pada shalat tarawih maupun shalat witir pada tata cara poin ini, karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut. Bahkan ada larangan menyerupai shalat maghrib.

Shalat tarawih sebanyak 11 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Melakukan shalat langsung sembilan rakaat yaitu shalat langsung 8 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan tanpa salam kemudian berdiri 1 rakaat lagi kemudian salam.
  2. Kemudian shalat 2 rakaat dalam keadaan duduk.

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah, beliau berkata:

كُناَّ نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَ طَهُوْرَهُ، فَيَـبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ أَنْ يَـبْعَثَهُ مِنَ الَّيْلِ، فَيَتَسَوَّكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يُصَلِى تِسْعَ رَكْعَةٍ لاَ يَـجْلِسُ فِيْهَا إِلاَّ فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ، ثُمَّ يَنْهَضُ وَ لاَ يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُوْمُ فَيُصَلِّى التَّاسِعَةَ، ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللهَ وَ يَحْمَدُهُ وَ يَدْعُوْهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيْمًا يُسْمِعْناَ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِمُ وَ هُوَ قَاعِدٌ (رواه مسلم)

“Kami dahulu biasa menyiapkan siwak dan air wudhu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atas kehendak Allah beliau selalu bangun malam hari, lantas tatkala beliau bangun tidur langsung bersiwak kemudian berwudhu. Kemudian beliau melakukan shalat malam atau tarawih 9 rakaat yang beliau tidak duduk kecuali pada rakaat yang kedelapan lantas membaca pujian kepada Allah dan shalawat dan berdoa dan tidak salam, kemudian bangkit berdiri untuk rakaat yang kesembilan kemudian duduk tahiyat akhir dengan membaca dzikir, pujian kepada Allah, shalawat dan berdoa terus salam dengan suara yang didengar oleh kami. Kemudian beliau melakukan shalat lagi 2 rakaat dalam keadaan duduk.” (HR. Muslim 1233 marfu’, mutawatir)

Faedah, Hadits ini merupakan dalil atas:

  1. Bolehnya shalat lagi setelah shalat witir.
  2. Terkadang Nabi shalat witir terlebih dahulu baru melaksanakan shalat genap.
  3. Bolehnya berdoa ketika duduk tasyahud awal.
  4. Bolehnya shalat malam dengan duduk meski tanpa uzur.

Shalat tarawih sebanyak 9 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Melakukan shalat dua rakaat dengan bacaan yang panjang baik dalam berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
  2. Setelah bangun kemudian shalat 2 rakaat lagi dengan bacaan yang panjang baik ketika berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
  3. Setelah bangun kemudian shalat 2 rakaat lagi dengan bacaan yang panjang baik ketika berdiri, ruku’ maupun sujud kemudian berbaring.
  4. Setelah bangun shalat witir 3 rakaat.

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

…ثُمَّ قَامَ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ فَأَطَالَ فِيْهْمَا الْقِيَامَ وَ الرُّكُوْعَ وَ السُّجُوْدَ ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَامَ حَتَّى نَفَغَ ثُمَّ فَعَلَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ سِتُّ رَكَعَاتٍ كُلُّ ذَلِكَ يَشْتاَكُ وَ يَتَوَضَأُ وَ يَقْرَأُ هَؤُلاَءِ الآيَاتِ ثُمَّ أَوْتَرَ بِثَلاَثٍ

“…Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri melakukan shalat 2 rakaat maka beliau memanjangkan berdiri, rukuk dan sujudnya dalam 2 rakaat tersebut, kemudian setelah selesai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbaring sampai mendengkur. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi hal tersebut sampai 3 kali sehingga semuanya berjumlah 6 rakaat. Dan setiap kali hendak melakukan shalat, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersiwak kemudian berwudhu terus membaca ayat (Inna fii kholqis samawati wal ardhi wakhtilafil laili… sampai akhir surat) kemudian berwitir 3 rakaat.”(HR. Muslim)

Faedah, Hadits ini juga menjadi dalil kalau tidur membatalkan wudhu

Shalat tarawih sebanyak 9 rakaat dengan perincian sebagai berikut:

  1. Melakukan shalat langsung 7 rakaat yaitu shalat langsung 6 rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat yang ke-6 tanpa salam kemudian berdiri 1 rakaat lagi kemudian salam. Maka sudah shalat 7 rakaat.
  2. Kemudian shalat 2 rakaat dalam keadaan duduk.

Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan Aisyah yang merupakan kelanjutan hadits no.5 beliau berkata: “Maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah tua dan mulai kurus maka beliau melakukan shalat malam atau tarawih 7 rakaat. Dan beliau melakukan shalat 2 rakaat yang terakhir sebagaimana yang beliau melakukannya pada tata cara yang pertama (dengan duduk). Sehingga jumlah seluruhnya 9 rakaat.” (HR. Muslim 1233)

Disunnahkan pada shalat witir membaca surat “Sabbihisma…” pada rakaat yang pertama dan membaca surat al-Ikhlas pada rakaat yang kedua dan membaca surat al-Falaq atau an-Naas pada rakaat yang ketiga. Atau membaca surat “Sabbihisma…” pada rakaat yang pertama dan membaca surat al-Kafirun pada rakaat yang kedua dan membaca al-Ikhlas pada rakaat yang ketiga.

Tata cara tersebut di atas semua benar. Boleh melakukan shalat malam atau tahajud atau tarawih dan witir dengan cara yang dia sukai, tetapi yang lebih afdhol adalah mengerjakan semua tata cara tersebut dengan berganti-ganti. Karena bila hanya memilih satu cara berarti menghidupkan satu sunnah tetapi mematikan sunnah yang lainnya. Bila melakukan semua tata cara tersebut dengan berganti-ganti berarti telah menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang banyak ditinggalkan oleh kaum Muslimin.

Adapun pada zaman Khalifah Umar radhiyallahu ‘anhu Kaum muslimin melaksanakan shalat tarawih sebanyak 11 rakaat, 13 rakaat, 21 rakaat dan 23 rakaat. Kemudian 39 rakaat pada zaman khulafaur rosyidin setelah Umar radhiyallahu ‘anhu tetapi hal ini khusus di Madinah. Hal ini bukanlah bid’ah (sehingga sama sekali tidak bisa dijadikan dalil untuk adanya bid’ah hasanah) karena para sahabat memiliki dalil untuk melakukan hal ini (shalat tarawih lebih dari 13 rakaat). Dalil tersebut telah disebutkan di atas ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallamditanya tentang shalat malam, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

« مَثْنىَ مَثْنىَ فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ »

“Dua rakaat – dua rakaat. Apabila kamu khawatir mendapati subuh, maka hendaklah kamu shalat witir satu rakaat.” (HR. Bukhari)

Pada hadits tersebut jelas tidak disebutkan adanya batasan rakaat pada shalat malam baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Batasannya adalah datangnya waktu subuh maka diperintahkan untuk menutup shalat malam dengan witir.

Para ulama berbeda sikap dalam menanggapi perbedaan jumlah rakaat tersebut. Jumhur ulama mendekati riwayat-riwayat tersebut dengan metode al-Jam’u bukan metode at-Tarjih(Metode tarjih adalah memilih dan memakai riwayat yang shahih serta meninggalkan riwayat yang lain atau dengan kata lain memilih satu pendapat dan meninggalkan pendapat yang lain. Hal ini dipakai oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam menyikapi perbedaan jumlah rakaat ini. Metode al-Jam’u adalah menggabungkan yaitu memakai semua riwayat tanpa meninggalkan dan memilih satu riwayat tertentu. Metode ini dipilih oleh jumhur ulama dalam permasalahan ini). Berikut ini beberapa komentar ulama yang menggunakan metode penggabungan (al-Jam’u) tentang perbedaan jumlah rakaat tersebut:

  • Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Ia boleh shalat 20 rakaat sebagaimana yang masyhur dalam mazhab Ahmad dan Syafi’i. Boleh shalat 36 rakaat sebagaimana yang ada dalam mazhab Malik. Boleh shalat 11 dan 13 rakaat. Semuanya baik, jadi banyak atau sedikitnya rakaat tergantung lamanya bacaan atau pendeknya.” (Majmu’ al-Fatawa23/113)
  • Ath-Thartusi berkata: “Para sahabat kami (malikiyyah) menjawab dengan jawaban yang benar, yang bisa menyatukan semua riwayat. Mereka berkata mungkin Umar pertama kali memerintahkan kepada mereka 11 rakaat dengan bacaan yang amat panjang. Pada rakaat pertama imam membaca 200 ayat karena berdiri lama adalah yang terbaik dalam shalat. Tatkala masyarakat tidak kuat lagi menanggung hal itu maka Umar memerintahkan 23 rakaat demi meringankan lamanya bacaan. Dia menutupi kurangnya keutamaan dengan tambahan rakaat. Maka mereka membaca surat Al-Baqarah dalam 8 rakaat atau 12 rakaat.”
  • Imam Malik rahimahullah berkata: “Yang saya pilih untuk diri saya dalam qiyam Ramadhan adalah shalat yang diperintahkan Umar yaitu 11 rakaat itulah cara shalat nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun 11 dekat dengan 13.
  • Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazz berkata: “Sebagian mereka mengira bahwa tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat. Sebagian lain mengira bahwa tarawih tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini semua adalah persangkaan yang tidak pada tempatnya, BAHKAN SALAH. Bertentangan dengan hadits-hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa shalat malam itu muwassa’ (leluasa, lentur, fleksibel). Tidak ada batasan tertentu yang kaku yang tidak boleh dilanggar.”

Adapun kaum muslimin akhir jaman di saat ini khususnya di Indonesia adalah umat yang paling lemah. Kita shalat 11 rakaat (Paling sedikit) dengan bacaan yang pendek dan ada yang shalat 23 rakaat dengan bacaan pendek bahkan tanpa tu’maninah sama sekali!!!

Doa Qunut dalam Shalat Witir

Doa qunut nafilah yakni doa qunut dalam shalat witir termasuk amalan sunnah yang banyak kaum muslimin tidak mengetahuinya. Karena tidak mengetahuinya banyak kaum muslimin yang membid’ahkan imam yang membaca doa qunut witir. Kadang-kadang Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam memakai qunut dalam shalat witir dan terkadang tidak. Hal ini berdasarkan hadits:

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقْنُتُ فِي رَكْعَةِ الْوِتْرِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang membaca qunut dalam shalat witir.” (HR. Ibnu Nashr dan Daraquthni dengan sanad shahih)

يَجْعَلُهُ قَبْلَ الرُّكُوْعِ

“Beliau membaca qunut itu sebelum ruku.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Abu Dawud dan An-Nasa’i dalam kitab Sunanul Qubro, Ahmad, Thobroni, Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir dengan sanad shahih)

Adapun doa qunut tersebut dilakukan setelah ruku’ atau boleh juga sebelum ruku’. Doa tersebut dibaca keras oleh imam dan diaminkan oleh para makmumnya. Dan boleh mengangkat tangan ketika membaca doa qunut tersebut.

Di antara doa qunut witir yang disyariatkan adalah:

« الَلَّهُمَّ اهْدِناَ فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِناَ فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّناَ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَباَرِكْ لَناَ فِيْماَ أَعْطَيْتَ، وَقِناَ شَرَّ ماَ قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِى وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّناَ وَتَعَالَيْتَ، لاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ »

Maraji’:

  1. Shohih Muslim
  2. Qiyaamur Ramadhan li Syaikh Al-Albanyrahimahullah
  3. Sifat Tarawih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  4. Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
  5. Majalah As-Sunnah Edisi 07/1424H/2003M
  6. Tata Cara Shalat Malam Nabi oleh Ustadz Arif Syarifuddin, Lc.

Timika, 3 Ramadhan 1428 H

Kumpulan artikel fikih shalat atau sifat shalat Nabi silakan simak Kumpulan Artikel Fikih Shalat Sesuai Sunnah Nabi

***

Penulis: R. Handanawirya (Alumni Ma’had Ilmi)
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar